-->
KABAR PROBOLINGGO

3 Pilar Kanigaran: Sukses Antarkan "M" Bangkit dari Keterpurukan dan Hinaan Masyarakat


PROBOLINGGO — Kisah inspiratif dan penuh haru datang dari Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. M, seorang warga Jalan Kopian yang sempat mengalami gangguan kejiwaan dan dinamika sosial yang berat, kini berhasil bangkit menata masa depannya. Keberhasilan rehabilitasi hingga kemandirian ekonomi ini menjadi bukti nyata kuatnya kepedulian sosial serta sinergi antara gerakan Kampung KB, majelis Pondok Pring, dan Forkessa (Forum Keluranan Siaga Sehat Aktif) Kanigaran.

Pada pertengahan tahun 2025, kondisi Manap sempat memprihatinkan. Selain memiliki riwayat gangguan jiwa, perilakunya yang cenderung temperamental dan emosional membuat keluarga serta warga sekitar khawatir. Berada dalam situasi yang serba sulit, pihak keluarga dan warga setempat berinisiatif membawanya ke Pondok Pring sebuah wadah pembinaan rohani dan rehabilitasi berbasis komunitas di Probolinggo untuk mendapatkan pendampingan khusus.

Proses Pendampingan dan Terapi Spiritual

Pendampingan di Pondok Pring menitikberatkan pada pendekatan humanis dan spiritual. Mengintegrasikan perhatian lingkungan yang intensif serta rutinitas ibadah, Manap diajak mengikuti kegiatan zikir bersama yang rutin digelar setiap hari Senin dan Jumat.

Hanya dalam waktu tiga bulan, perubahan signifikan mulai terlihat. Kondisi emosional Manap semakin stabil, perilaku arogannya luluh, dan ia mulai membuka diri untuk berinteraksi harmonis dengan warga sekitar. Perubahan ini tak lepas dari peran aktif elemen Kampung KB dan aktivis kemanusiaan dari Forkessa Kanigaran yang terus memantau serta memberikan dorongan moral selama proses pemulihan.

Pemberdayaan Ekonomi: Dari Patungan Santri Hingga Usaha Es Tebu

Pondok Pring bersama Forkessa Kanigaran dan pengurus Kampung KB menyadari bahwa pemulihan kejiwaan tidak cukup hanya sampai pada taraf stabilisasi emosi. Tanpa kemandirian ekonomi, potensi kembalinya tekanan sosial tetap mengintai.

Berangkat dari kesadaran tersebut, lahir inisiatif menggalang kepedulian melalui aksi patungan donasi dari para santri dan relawan. Dari dana yang terkumpul, dibentuklah sebuah Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) jualan es tebu yang diserahkan sepenuhnya untuk dikelola oleh M.

Kini, usaha es tebu tersebut berjalan lancar dan produktif. M tidak hanya memiliki kegiatan harian yang bermanfaat, tetapi juga mampu menghasilkan pendapatan mandiri untuk menopang kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Model Kebangkitan Berbasis Komunitas

Ketua dan pengurus Lembaga Pemberdayaan Komunitas menegaskan bahwa keberhasilan M merupakan gambaran nyata bagaimana integrasi antara program pemberdayaan keluarga (Kampung KB), pembinaan rohani (Pondok Pring), dan Forum Kelurahan Siaga Sehat Aktif (Forkessa Kanigaran) dapat mengubah jalan hidup seseorang.

"Kami belajar bahwa masa lalu yang kelam tidak pernah menutup pintu masa depan yang cerah. Melalui pendampingan rohani di Pondok Pring, dukungan sosial Forkessa, serta wadah Kampung KB, kita membuktikan bahwa kepedulian kecil yang dikumpulkan bersama mampu mengembalikan martabat dan kemandirian seseorang," ujar salah satu tokoh penggerak setempat.

Saat ini, M dapat menjalankan ibadah harian dengan tenang, memiliki fisik yang makin sehat, serta menikmati hari-harinya dengan penuh rasa syukur. Kisah Manap menjadi simbol pengingat bagi masyarakat luas untuk tidak menghakimi seseorang dari masa lalunya, melainkan hadir memberikan kesempatan kedua demi masa depan yang lebih baik.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال