Dalam acara yang bertajuk “Silatul Fikr dan Amal untuk Merawat Tradisi Unggul Muhammadiyah” ini, Haedar mengingatkan bahwa silaturahmi pasca-Ramadan tidak boleh berhenti pada seremoni budaya semata. Menurutnya, Halalbihalal harus menjadi momentum untuk mengonversi nilai takwa menjadi energi kolektif yang memperkuat ikatan ideologis antarwarga persyarikatan.
"Kuncinya ada dalam hati, apakah kita mau mengalah ketika benar dan menurunkan ego, atau membiarkan ego menguasai diri," tegas Haedar di hadapan para pimpinan dan kader Muhammadiyah Jawa Timur.
Haedar juga menyoroti bahaya polarisasi dan ego pribadi yang dapat menghambat gerak organisasi. Ia mengajak seluruh elemen Muhammadiyah untuk kembali pada tradisi Silatul Fikr (penyatuan pemikiran) dan Silatul Amal (penyatuan gerak usaha). Dengan demikian, persatuan yang terbangun bukan sekadar formalitas, melainkan persatuan yang berbasis pada gagasan dan amal usaha yang nyata untuk memajukan bangsa.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan PWM Jatim, tokoh-tokoh daerah, serta warga Muhammadiyah yang memadati lokasi dengan penuh antusiasme. Ditempat yang sama jajaran keluarga besar PDM Probolinggo turut serta dalam momen ini yang salah satunya adalah Syamsul Arifin, M.Pd.
"Harapan kami, selepas acara ini tidak ada lagi ego sektoral antar lembaga. Seperti yang disampaikan Pak Haedar, kita harus mengonversi energi takwa menjadi aksi nyata. Semoga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Timur, semakin solid dalam menjalankan amal usaha yang bermanfaat bagi masyarakat luas," ujar Syamsul di sela-sela acara.
Momentum ini diharapkan mampu memperkokoh posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang solid dan mencerahkan di tengah dinamika kebangsaan.(*)
www.prestasindo.my.id | Editor : Hargo

Komentar Pembaca
Memuat komentar...