-->
KABAR PROBOLINGGO

Misteri Pertemuan di Tengah Samudra: Sunan Kalijaga dan Sang Penjaga Air

Kisah pertemuan antara Sunan Kalijaga dan Nabi Khidir merupakan salah satu fragmen paling spiritual dalam khazanah pewayangan dan dakwah Islam di Jawa. Hubungan ini bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan simbol dari pencarian jati diri dan hakikat ketuhanan.

Gambar. Ilustrasi Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidir AS

KADILANGU – Dalam catatan sejarah lisan Walisongo, terdapat satu peristiwa krusial yang menandai transformasi spiritual Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga. Beliau dikabarkan menempuh perjalanan batin yang luar biasa hingga bertemu dengan sosok misterius, Nabi Khidir AS, di tengah samudra luas.

Kisah ini bermula saat Sunan Kalijaga merasa ilmu lahiriah yang dimilikinya belum cukup untuk memahami kedalaman "Sangkan Paraning Dumadi" (asal dan tujuan penciptaan). Atas petunjuk gurunya, Sunan Bonang, ia melakukan uzlah dan pengembaraan spiritual yang membawanya ke pesisir laut selatan.

Konon, Sunan Kalijaga diperintahkan untuk berjalan di atas air tanpa membasahi pakaiannya. Di tengah hamparan air yang tak bertepi itulah, ia bertemu dengan seorang pria bertubuh kecil yang mampu berjalan di atas ombak layaknya berjalan di daratan. Sosok tersebut tak lain adalah Nabi Khidir.

Pertemuan ini menjadi momen ikonik dalam naskah Suluk Linglung. Nabi Khidir kemudian memberikan perintah yang mustahil secara logika: ia meminta Sunan Kalijaga masuk ke dalam telinganya.

"Bagaimana mungkin aku yang bertubuh besar bisa masuk ke dalam telingamu yang kecil?" tanya Sunan Kalijaga.

Nabi Khidir menjawab dengan tenang, "Jangan melihat kecilnya raga ini. Masuklah."

Secara ajaib, Sunan Kalijaga berhasil masuk dan di sana ia tidak menemukan kegelapan, melainkan sebuah dunia yang luas tanpa batas. Di dalam dimensi tersebut, Sunan Kalijaga mendapatkan wejangan tentang:

Hakikat Shalat: Bahwa penyembahan bukan sekadar gerakan, melainkan penyatuan jiwa dengan Sang Pencipta.

Air Kehidupan (Ma’ul Hayat): Simbol dari kearifan sejati yang menghidupkan hati yang mati.

Kesempurnaan Hidup: Pemahaman bahwa Tuhan tidak jauh, melainkan lebih dekat dari urat leher manusia.

Setelah pertemuan tersebut, Sunan Kalijaga kembali ke tanah Jawa dengan pemahaman agama yang lebih inklusif dan mendalam. Inilah yang mendasari gaya dakwah beliau yang menggunakan pendekatan budaya (wayang, tembang, dan tradisi) karena beliau meyakini bahwa inti agama adalah kasih sayang dan pembersihan jiwa, bukan sekadar kulit luar.

Hingga saat ini, kisah pertemuan ini sering dipentaskan dalam lakon wayang "Dewa Ruci", di mana tokoh Bima (mewakili Kalijaga) bertemu dengan Dewa Ruci (mewakili Nabi Khidir).

Kisah & Budaya | Editor: Presta

Komentar Pembaca

Memuat komentar...

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال