-->
KABAR PROBOLINGGO

Membedah Mitos Laut Selatan: Mengenal Perbedaan Kanjeng Ratu Kidul dan Nyai Roro Kidul

Gambat. Ilustrasi
PROBOLINGGO – Dalam narasi budaya dan mitologi Jawa, sosok penguasa Laut Selatan sering kali dianggap sebagai satu entitas yang sama. Namun, jika ditelaah melalui kacamata sejarah dan pakem Keraton Mataram, terdapat garis perbedaan yang tegas antara Kanjeng Ratu Kidul dan Nyai Roro Kidul.

Perbedaan ini menyangkut aspek hirarki, asal-usul, hingga peran spiritual yang mereka emban dalam menjaga keseimbangan di pesisir selatan Pulau Jawa.

Hirarki dan Kedudukan

Secara struktural dalam jagat gaib Jawa, Kanjeng Ratu Kidul adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Ia dikenal sebagai Ratu Agung yang menjadi mitra spiritual bagi raja-raja Mataram, baik di Yogyakarta maupun Surakarta. Sosoknya dianggap sebagai roh suci yang setara dengan dewi.

Sementara itu, Nyai Roro Kidul merupakan sosok patih atau panglima perang yang setia. Ia bertugas memimpin bala tentara gaib dan mengawasi keamanan di wilayah pesisir. Dalam bahasa sederhana, Kanjeng Ratu Kidul adalah sang penguasa (pemimpin negara), sedangkan Nyai Roro Kidul adalah pelaksana tugas di lapangan.

Asal-Usul: Antara Kosmik dan Legenda

Perbedaan mencolok juga ditemukan pada latar belakang keduanya:

Kanjeng Ratu Kidul: Diyakini sebagai manifestasi energi alam atau keturunan langsung dari para dewa. Kehadirannya bersifat abadi dan melekat pada eksistensi Pulau Jawa sejak purbakala.

Nyai Roro Kidul Lebih banyak dikaitkan dengan narasi manusia atau folklor. Legenda yang paling populer adalah kisah Putri Kandita dari Kerajaan Pajajaran yang menceburkan diri ke laut selatan untuk menyembuhkan penyakit kulit akibat guna-guna, hingga akhirnya diangkat menjadi bagian dari kerajaan gaib tersebut.

Dalam tradisi visual, Kanjeng Ratu Kidul kerap digambarkan mengenakan pakaian kebesaran ratu Jawa yang anggun dengan aura yang tenang dan berwibawa. Di sisi lain, Nyai Roro Kidul sering digambarkan sebagai sosok wanita cantik yang lebih dinamis, terkadang mengenakan busana hijau yang ikonik, dan lebih sering menampakkan diri kepada masyarakat atau peziarah.

Kisah & Budaya | Editor: Hargo

Komentar Pembaca

Memuat komentar...

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال