-->
KABAR PROBOLINGGO

Kerusakan Alam dan Ancaman Bencana Lingkungan: Renungan di Hari Keanekaragaman Hayati Internasional

KABAR PROBOLINGGO - Setiap tanggal 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity). Tahun 2026 ini, peringatan tersebut tidak lagi sekadar seremoni dengan slogan-slogan optimis tentang "menyelamatkan bumi". Sebaliknya, hari ini terasa seperti sebuah alarm darurat yang berbunyi nyaring di tengah keheningan hutan yang semakin sepi dan lautan yang semakin panas.

Keanekaragaman hayati bukan hanya soal jumlah spesies hewan langka atau keindahan taman nasional. Ia adalah jaring kehidupan yang rumit, tempat setiap benang—mulai dari mikroba tanah, lebah penyerbuk, hingga paus biru—memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, apa yang kita saksikan hari ini adalah kerusakan sistemik. Jaring itu sedang sobek, dan ancamannya bukan lagi teori di buku pelajaran, melainkan bencana lingkungan nyata yang mengetuk pintu rumah kita setiap hari.

Wajah Kerusakan: Lebih Cepat dari Pemulihan

Data dari Living Planet Report edisi terbaru (2025) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: populasi vertebrata liar global telah turun rata-rata 73% sejak tahun 1970. Di Indonesia, negara mega-biodiversitas, laju deforestasi meski melambat masih terjadi di wilayah-wilayah kritis seperti Papua dan Kalimantan. Konversi hutan menjadi lahan sawit monokultur, pertambangan ilegal, dan ekspansi infrastruktur tanpa kajian lingkungan yang ketat telah mengubah paru-paru dunia menjadi lahan tandus.

Oleh: Dr. H. AGUS LITHANTA, S.Pd.,M.Pd.
Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Brawijaya &
Sebagai Ketua PGRI Kota Probolinggo

Kerusakan ini terjadi dalam tiga bentuk utama:
1. Hilangnya Habitat: Fragmentasi hutan memutus koridor migrasi satwa, memaksa mereka masuk ke pemukiman manusia (konflik manusia-satwa) atau punah karena tidak menemukan makanan.
2. Polusi Sistemik: Sampah plastik mikro kini ditemukan di dalam tubuh ikan terdalam di palung Mariana hingga di air hujan yang kita minum. Racun kimia pertanian membunuh serangga penyerbuk yang merupakan kunci ketahanan pangan.
3. Perubahan Iklim: Pemanasan global memicu pemutihan karang (coral bleaching) massal di perairan tropis, membunuh ekosistem laut yang menjadi sumber protein bagi jutaan manusia.
Ancaman Bencana: Alam Mulai Menagih Hutang
Alam memiliki mekanisme umpan balik. Ketika kita merusak keanekaragaman hayati, kita melucuti pertahanan alami bumi terhadap bencana. Tahun 2025 dan awal 2026 telah menjadi saksi bisu bagaimana kerusakan alam bermetamorfosis menjadi bencana lingkungan:
* Banjir Bandang dan Longsor: Akar pohon yang hilang akibat gundulnya hutan hulu membuat tanah kehilangan daya serap. Hujan dengan intensitas sedang pun kini bisa memicu banjir bandang yang menghancurkan desa-desa dalam hitungan menit.
* Kekeringan Ekstrem: Hilangnya vegetasi penutup tanah mengganggu siklus hidrologi. Mata air kering, sungai menyusut, dan krisis air bersih melanda daerah yang dulunya subur.
* Wabah Penyakit Baru (Zoonosis): Ketika habitat alami hancur, satwa liar terpaksa hidup berdempetan dengan manusia dan hewan ternak. Ini meningkatkan risiko spillover virus baru. Pandemi di masa lalu adalah peringatan keras; kerusakan biodiversitas adalah pemicu utamanya.
* Gagal Panen: Hilangnya keanekaragaman serangga penyerbuk dan musuh alami hama membuat pertanian semakin rentan. Petani terpaksa menggunakan lebih banyak pestisida, yang justru memperparah kerusakan tanah dan air, menciptakan lingkaran setan bencana pangan.

Di Hari Keanekaragaman Hayati ini, kita perlu merenungkan akar masalah yang sebenarnya: pola pikir antroposentris. Manusia terlalu lama menganggap diri sebagai pusat alam semesta, di mana alam hanyalah "gudang sumber daya" yang siap dieksploitasi demi keuntungan sesaat. Kita lupa bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari jaring kehidupan, bukan pemiliknya.

Ki Hajar Dewantara pernah mengajarkan konsep Tri Nga, salah satunya adalah Ngerti (mengerti). Kita harus mengerti bahwa menyakiti alam sama dengan menyakiti diri sendiri. Filosofi lokal Indonesia, seperti Tri Hita Karana (Bali), yaitu filosofi hidup Bali yang  menekankan tiga penyebab kebahagiaan melalui hubungan  harmonis manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Siri’ Na Pacce filosofi Bugis-Makassar adalah prinsip hidup yang mengajarkan keseimbangan antara menjaga kehormatan diri dan memiliki kepedulian sosial. Namun, modernisasi seringkali menggilas kearifan lokal ini dengan beton dan mesin.

Apakah kita ingin mewariskan kepada anak cucu kita sebuah dunia di mana "hutan" hanya tinggal nama di buku sejarah? Di mana "burung" hanya bisa dilihat melalui rekaman hologram? Di mana bencana adalah menu harian yang tak terhindarkan? Seharusnya kita mewariskan mata air kepada anak cucu kita bukan justru sebaliknya mewariskan air mata, karena ketidakpedulian kita terhadap alam.

Dari Eksploitasi ke Restorasi

Harapan masih ada, namun jendela kesempatan semakin sempit. Kita perlu transisi radikal dari paradigma eksploitasi menuju restorasi dan koeksistensi:

1. Ekonomi Sirkular dan Hijau: Mengubah model ekonomi yang linear (ambil-pakai-buang) menjadi sirkular. Industri harus bertanggung jawab penuh atas dampak limbahnya. Valuasi ekonomi harus memasukkan "biaya alam"; merusak hutan harus lebih mahal daripada menjaganya.

2. Restorasi Ekosistem Skala Besar: Program penanaman kembali tidak boleh sekadar angka statistik. Harus menggunakan spesies asli (native species), melibatkan masyarakat lokal, dan memulihkan fungsi ekologis, bukan hanya menanam pohon komersial.

3. Perlindungan Wilayah Adat: Masyarakat adat adalah penjaga biodiversitas terbaik di dunia. Mengakui dan memperkuat hak-hak wilayah adat adalah strategi konservasi paling efektif dan efisien.

4. Pendidikan Ekologi Holistik: Kurikulum pendidikan harus menanamkan cinta alam sejak dini. Anak-anak perlu diajak menyentuh tanah, mengamati serangga, dan memahami bahwa mereka adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam.

5. Kebijakan Tegas dan Penegakan Hukum: Tidak ada kompromi bagi perusak lingkungan. Korupsi di sektor sumber daya alam harus dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) karena dampaknya yang mematikan bagi generasi mendatang.

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 adalah cermin retak yang memantulkan wajah peradaban kita. Apakah kita akan terus menjadi generasi yang serakah, yang mewariskan bumi yang rusak dan penuh bencana? Atau kita akan menjadi generasi pembalik keadaan (the turning generation) yang berani berhenti sejenak, memperbaiki jaring kehidupan yang sobek, dan belajar hidup selaras dengan alam? Pilihan ada di tangan kita. Alam tidak butuh manusia untuk bertahan hidup; ia akan pulih dengan caranya sendiri, mungkin tanpa kita. Tapi manusialah yang butuh alam untuk hidup. Mari jadikan renungan hari ini sebagai titik balik. Selamatkan keanekaragaman hayati, bukan karena kasihan pada harimau atau bunga raflesia, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan masa depan kita sendiri dari ancaman bencana yang kian nyata.

"Ketika pohon terakhir sudah ditebang, ketika sungai terakhir telah tercemar, dan ketika ikan terakhir sudah ditangkap, barulah manusia akan sadar bahwa manusia tidak dapat makan uang." — Pepatah Kuno Cree. (A)

Komentar Pembaca

Memuat komentar...

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال