Suatu pagi, Pak Fulan berencana membawa sapinya ke pasar hewan untuk dijual. Ia butuh uang untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor dan membeli bibit padi baru. Dengan bangga, ia menuntun sapi besar itu keluar dari kandang. Langkah kaki sapi itu terdengar berat dan mantap, "Dug... dug... dug..." di tanah berbatu.
Belum jauh ia berjalan, ia bertemu dengan Pak Tejo, tetangganya Pedagang sapi berpengalaman yang dikenal sebagai suka bercanda dan sedikit usil. Melihat Pak Fulan menuntun sapi, Pak Tejo sengaja berteriak dari kejauhan,
"Eh, Pak Fulan! Mau jual kambingnya ke pasar? Wah, kambingnya besar sekali ya, hampir sebesar sapi!"
Pak Fulan tertegun sejenak, lalu tersenyum sambil menjawab, "Bukan, Pak Tejo. Ini sapi, bukan kambing. Lihat saja tanduknya yang lebar dan suaranya yang melenguh."
Namun, Pak Tejo bersikeras sambil tertawa, "Ah, Bapak ini bisa saja. Itu jelas kambing! Coba dengar, dia sedang mengembik minta makan." Padahal, sapi itu hanya mengeluarkan suara "Moooo..." yang khas suara sapi. Pak Fulan menggeleng dan terus berjalan, menganggap itu hanya lelucon tetangga.
Namun, di tengah jalan, ia berpapasan dengan sekelompok anak muda yang sedang nongkrong. Anak-anak tersebut sudah kompromi dengan Pak Tejo. Saat melihat Pak Fulan, salah satu dari mereka berteriak, "Wah, unik sekali! Orang itu menuntun kambing raksasa!"
Yang lain menyahut, "Iya, saya belum pernah lihat kambing sebesar itu. Mungkin jenis kambing hibrida dari luar negeri!"
Pak Fulan mulai ragu. Langkahnya melambat. "Mungkinkah aku salah?" batinnya. "Memangnya apa ciri-ciri sapi dan kambing? Ah, tapi semua orang bilang itu kambing." Keraguan mulai tumbuh di hatinya. Keyakinannya bahwa itu adalah sapi mulai goyah digoyang oleh ucapan banyak orang.
Sesampainya di pintu masuk pasar hewan, suasana semakin ramai. Pedagang dan pembeli lalu-lalang. Pak Fulan menambatkan "sapinya" di sudut pasar. Tak lama, seorang calon pembeli mendekat. Ia mengamati hewan itu dari atas sampai bawah.
Pak Fulan dengan suara agak ragu bertanya, "Maaf, Pak. Saya mau jual... eh... hewan ini. Ini sapi, kan?"
Si pembeli tertawa terkekeh, "Hah? Bapak bercanda? Ini jelas-jelas kambing! Lihat tubuhnya yang (menurut mereka) terlalu kurus untuk sapi, lihat caranya berdiri, itu gaya kambing! Bapak ini hebat dapat kambing sebesar ini? Langka!"
Orang-orang di sekitar mulai berkerumun dan serempak berseru, "Betul! Itu kambing!", "Kambing! Kambing!", "Jangan bohong, Pak, itu kambing!"
Suara orang banyak itu seolah menghantam kepala Pak Fulan. Keraguannya memuncak. Ia mulai lupa pada fakta yang ia tahu selama bertahun-tahun merawat hewan itu. Ia lupa bahwa setiap pagi ia membawa sapinya membajak sawah dengan tenaga khas sapi. Ia lupa suara aslinya. Di telinganya sekarang, suara "Mooo" terdengar seperti "Mbeeek" yang dipaksakan. Matanya yang melihat tubuh besar itu mulai membayangkan tubuh itu mengecil menjadi seukuran kambing.
Akhirnya, Pak Fulan menyerah. Ia mengangguk lemah kepada para orang banyak. "Ya... mungkin kalian benar.
Mungkin selama ini aku salah. Ini pasti kambing," katanya pelan.
Dengan hati pasrah dan keyakinan yang sudah hancur, Pak Fulan menjual hewan tersebut kepada si pembeli. Dan karena di mata Pak Fulan (dan orang banyak) hewan itu adalah kambing, maka ia pun menjualnya dengan harga kambing. Harga yang jauh lebih murah daripada harga sapi.
Pak Fulan pulang membawa uang hasil penjualan yang tidak seberapa, sementara si pembeli pergi dengan wajah sumringah menuntun sapi gemuk yang didapatnya dengan harga murah.
Sesampainya di rumah, istri Pak Fulan bertanya, "Bagaimana, Pak? Apakah sapinya laku mahal?"
Pak Fulan hanya menunduk lesu, "Bukan sapi, Bu. Ternyata itu kambing. Semua orang bilang begitu, jadi aku yakin itu kambing. Jadi kujual seharga kambing."
Sang istri terperanjat, "Ya Allah, Pak! Itu sapi kita yang besar! Bagaimana bisa Bapak percaya itu kambing hanya karena kata orang? Sapi tetaplah sapi, meski seribu orang bilang itu kambing!"
Pak Fulan pun tersadar, namun semuanya sudah terlambat. Uang telah dibelanjakan, dan sapi itu telah pergi. Ia belajar pelajaran mahal hari itu: Jangan pernah menggadaikan keyakinan dan fakta yang nyata hanya karena provokasi atau ucapan orang banyak yang tidak bertanggung jawab.
Pesan Moral:
1. Miliki Pendirian Teguh: Kebenaran adalah kebenaran, meskipun hanya diakui oleh satu orang. Jangan mudah goyah hanya karena banyak orang mengatakan hal yang berbeda.
2. Percaya pada Fakta dan Pengalaman Sendiri: Kita lebih mengenal realitas yang kita alami sehari-hari daripada opini orang lain yang sekilas lewat.
3. Bahaya Ikut-ikutan FOMO (Fear of Missing Out) : Terkadang, tekanan sosial bisa membuat kita kehilangan logika dan merugikan diri sendiri, seperti Pak Fulan yang menjual sapi seharga kambing.
4. Kebatilan yang dimanajemen dengan baik akan mengalahkan Kebenaran yang tidak dimanajemen dengan baik.
5. Di zaman yang disebut vuca era ini, opini dan fakta kebenaran itu bisa menjadi ambigu, maka kita harus berpikir kritis analitis untuk menemukan kebenaran yang sejati.
6. Gempuran media yang terus menerus akan mengaburkan nilai kebenaran dan kebatilan, maka siapkan analisa terbaikmu.
Cerita ini sering dijadikan metafora dalam kehidupan sosial, politik, maupun bisnis, di mana seseorang bisa kehilangan aset, hak, atau prinsipnya hanya karena tidak berani mempertahankan kebenaran di tengah gempuran opini publik yang menyesatkan. Di zaman di mana hukum bisa dibeli, kebenaran bisa diputarbalikan, pasal hukum bisa dimultitafsirkan, aturan bisa diubah sewaktu-waktu jangan lupa untuk menyelami hati Nurani. Opini yang dibangun dan disuarakan dengan baik dan berulang-ulang seringkali mengalahkan fakta yang tidak disuarakan dengan baik.
"Temukan bunyi, rasa dan kesadaran sejati. Sebab kita hidup di tengah gelimang kepalsuan yang luar biasa menenggelamkan kita"~ Cak Nun
DAFTAR PUSTAKA
Cialdini, R. B. (2009). Influence: Science and Practice (5th ed.). Boston: Pearson Education.
Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Khasanah, A. (2018). Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara yang Sarat Nilai Moral. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
15+ Quote Emha Ainun Najib (Cak Nun) - nderekngaji


Komentar Pembaca
Memuat komentar...