Kumpulan Puisi
Karya: NURUN NABILA NURAEDY
MA ZAHA 1 GENGGONG
Kelas: X
#Sekolahku Tercinta
Sekolahku tecinta...
Tak megah dan tak sesak pula akan siswa
Ragamu yang tak sempurna
Menjadikan kami menatapmu dengan iba
Atapmu bak saringan nasi
Menjadikan kelas kami bak sungai
Saat tangisan semesta datang menghampiri
Sekolahku tercinta...
Bukan tak ditoleh pemerintah
Namun penawar yang hilang entah ke mana
Jerit tangismu tak didengar
Wajahmu yang coreng-moreng seakan kasat mata
Aku hanya berdo’a untuk sekolahku
Semoga segera terlepas dari benalu
Yang menghambatmu ‘tuk tumbuh
Tak megah dan tak sesak pula akan siswa
Ragamu yang tak sempurna
Menjadikan kami menatapmu dengan iba
Atapmu bak saringan nasi
Menjadikan kelas kami bak sungai
Saat tangisan semesta datang menghampiri
Sekolahku tercinta...
Bukan tak ditoleh pemerintah
Namun penawar yang hilang entah ke mana
Jerit tangismu tak didengar
Wajahmu yang coreng-moreng seakan kasat mata
Aku hanya berdo’a untuk sekolahku
Semoga segera terlepas dari benalu
Yang menghambatmu ‘tuk tumbuh
#Celengan Rindu
Rasa itu telah sesak memenuhi rongga dadaku
Aku menyebutnya celengan rindu yang ku punya
29 Juni lalu, bukan pada bujang kota
Bukan pula pada buaya berkumis tipis itu
Namun pada raja dan ratuku tercinta
Untuk menuju puncak yang sangat tinggi
Memerlukan logistik yang mencukupi
Aku mengumpulkan itu sekarang
Bergulung-gulung dengan diri untuk melawan kebodohan
Memang menakutkan mengepakkan sayap seorang diri
Layaknya seekor anak burung
Dipaksa mencari makan oleh induknya
Bedanya, aku tak mencari mangsa untuk perutku
Namun, mencari ilmu untuk orang-orang yang kusayangi
Aku menyebutnya celengan rindu yang ku punya
29 Juni lalu, bukan pada bujang kota
Bukan pula pada buaya berkumis tipis itu
Namun pada raja dan ratuku tercinta
Untuk menuju puncak yang sangat tinggi
Memerlukan logistik yang mencukupi
Aku mengumpulkan itu sekarang
Bergulung-gulung dengan diri untuk melawan kebodohan
Memang menakutkan mengepakkan sayap seorang diri
Layaknya seekor anak burung
Dipaksa mencari makan oleh induknya
Bedanya, aku tak mencari mangsa untuk perutku
Namun, mencari ilmu untuk orang-orang yang kusayangi
#Dengar Aku
Suaraku timbul tenggelam oleh waktu
Tak dapat ku hindari riuh yang menusuk telingaku
Remuk redam hatiku bak dihantam badai 2000 tahun
Lalu bergulung-gulung, bobrok, rakus, dan tak tahu malu
Tahukah kamu?
Aku di sini meringkuk, bungkam, hancur seorang diri
Udarapun seakan tak sudi memelukku
Yang polos, lugu nan kerdil ini
Tega sekali membiarkanku terjerat tali durjana ini
Aduhai besar inginku pada masa nanti
Harap-harap tak ada yang menggali
Apa yang sudah ku tanami
Biarlah hanya “ dia” seorang diri
Karena tidak untukmu nanti
Tak dapat ku hindari riuh yang menusuk telingaku
Remuk redam hatiku bak dihantam badai 2000 tahun
Lalu bergulung-gulung, bobrok, rakus, dan tak tahu malu
Tahukah kamu?
Aku di sini meringkuk, bungkam, hancur seorang diri
Udarapun seakan tak sudi memelukku
Yang polos, lugu nan kerdil ini
Tega sekali membiarkanku terjerat tali durjana ini
Aduhai besar inginku pada masa nanti
Harap-harap tak ada yang menggali
Apa yang sudah ku tanami
Biarlah hanya “ dia” seorang diri
Karena tidak untukmu nanti
#Pagi, 29 Juni 2025
Pagi 29 Juni...
Dekapan hangat menyapa tubuh dalam lelapku
Hangat... sangat hangat..
Hingga membuat benteng pertahananku runtuh tak tersisa
Dipeluknya aku hingga tenggelam dalam badan kekarnya
Diusapnya kepalaku dengan sayang
Hingga membuat bahuku gemetar
Dekapan Raja dan Ratu
Sebelum aku melangkah menuju kehidupan yang kejam seorang diri
Ku kira dekapan itu untuk waktu yang lama
Namum hanya sementara...sementara..
Hanya untuk menumpahkan rasa sayang
Sebelum menuju kehidupan yang seram .. sangat seram..
Hingga aku sesak sebelum berperang..
Dekapan hangat menyapa tubuh dalam lelapku
Hangat... sangat hangat..
Hingga membuat benteng pertahananku runtuh tak tersisa
Dipeluknya aku hingga tenggelam dalam badan kekarnya
Diusapnya kepalaku dengan sayang
Hingga membuat bahuku gemetar
Dekapan Raja dan Ratu
Sebelum aku melangkah menuju kehidupan yang kejam seorang diri
Ku kira dekapan itu untuk waktu yang lama
Namum hanya sementara...sementara..
Hanya untuk menumpahkan rasa sayang
Sebelum menuju kehidupan yang seram .. sangat seram..
Hingga aku sesak sebelum berperang..
#Pecandu Cintamu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan pandanganku pada aksara arab
Yang merambat-rambat itu
Sedangkan pandanganku pada aksara arab
Yang merambat-rambat itu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan aku terbelenggu oleh tali suci
Yang bahkan enggan kan sentuh
Sedangkan aku terbelenggu oleh tali suci
Yang bahkan enggan kan sentuh
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan latarmu dan latarku
Bak air dan minyak yang mustahil tuk menyatu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan aku hanya bergantung
Pada bait-bait do’a ayah ibu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan aku hanya butiran debu
Di sela-sela kertas usang itu
Sedangkan latarmu dan latarku
Bak air dan minyak yang mustahil tuk menyatu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan aku hanya bergantung
Pada bait-bait do’a ayah ibu
Pantaskah aku menjadi pecandu cintamu?
Sedangkan aku hanya butiran debu
Di sela-sela kertas usang itu
#Kehilangan Aku
Bibirmu tak lagi mengoceh ria
Gigimu slalu basah karena tak tersentuh udara
Lidahmu kelu, yang semula bergetar karena suara
Kini, bahkan suaramu hampir punah dalam ruangan itu
Tidak ini bukan aku!
Kemana perginya tokoh utama itu?
Kemana perginya canda tawa di setiap penjuru?
Kemana perginya lagu yang melompat-lompat
Dari mulutku ketika bell istirahat berbunyi?
Ingin sekali aku memohon tawa agar akupun punya
Namun suara mereka layaknya toa yang memekakkan telinga
Transparan saja nyaliku ciut
Meminta jawab atas kebodohan pun aku tak mampu
Sialan aku kehilangan jiwa itu.
Gigimu slalu basah karena tak tersentuh udara
Lidahmu kelu, yang semula bergetar karena suara
Kini, bahkan suaramu hampir punah dalam ruangan itu
Tidak ini bukan aku!
Kemana perginya tokoh utama itu?
Kemana perginya canda tawa di setiap penjuru?
Kemana perginya lagu yang melompat-lompat
Dari mulutku ketika bell istirahat berbunyi?
Ingin sekali aku memohon tawa agar akupun punya
Namun suara mereka layaknya toa yang memekakkan telinga
Transparan saja nyaliku ciut
Meminta jawab atas kebodohan pun aku tak mampu
Sialan aku kehilangan jiwa itu.
#Aku adalah Aku
Aku terlalu jauh...
Tidak... kau dekat, kau ada dalam diriku
Aku tak pernah ada untukmu...
Tidak kau adalah denyut nadiku
Aku hanya khayalanmu...
Tidak... darahmu selalu berdesir di telingaku
Kita tak mungkin menjadi satu...
Biarkan aku merayu Tuhan
Kali ini tidak, aku.. aku harus menjadi dirimu
Dan kau harus selalu berada di sampingku
Biarlah ku panjati dinding-dinding ketidak mungkinan itu
Dengan hembusan nafasku sendiri
Tidak... kau dekat, kau ada dalam diriku
Aku tak pernah ada untukmu...
Tidak kau adalah denyut nadiku
Aku hanya khayalanmu...
Tidak... darahmu selalu berdesir di telingaku
Kita tak mungkin menjadi satu...
Biarkan aku merayu Tuhan
Kali ini tidak, aku.. aku harus menjadi dirimu
Dan kau harus selalu berada di sampingku
Biarlah ku panjati dinding-dinding ketidak mungkinan itu
Dengan hembusan nafasku sendiri
#Manusia Belanda
Menanti kehadirannmu setelah ribuan kali kau terjatuh
Tak penuh harap kala itu karena akupun riuh
Bimbang, takut, kalut menjadi satu bak alunan lagu
Yang selalu berputar di kepalaku
28 pekan ku coba melupakanmu
Walau akhirnya aku pun tak mampu
Ikhlas sudah bergema seiring linangan air mata
Tawa sudah mencoba tampakkan dirinya
Namun, siapa sangka kau kembali dengan sgala laramu
Aku terkesima pada keajaiban dunia
Yang membawamu kembali dalam pelukanku
Ribuan terima kasih ku langitkan
Segala puji kepada Tuhan
Tak penuh harap kala itu karena akupun riuh
Bimbang, takut, kalut menjadi satu bak alunan lagu
Yang selalu berputar di kepalaku
28 pekan ku coba melupakanmu
Walau akhirnya aku pun tak mampu
Ikhlas sudah bergema seiring linangan air mata
Tawa sudah mencoba tampakkan dirinya
Namun, siapa sangka kau kembali dengan sgala laramu
Aku terkesima pada keajaiban dunia
Yang membawamu kembali dalam pelukanku
Ribuan terima kasih ku langitkan
Segala puji kepada Tuhan
#Masih Kamu
Tuhan telah menjawab setiap bait do’a yang ada
Disela-sela tetesan rindu yang jatuh
Meraih hasrat dalam sanubariku
Dan alam mulai merestui
Setiap detik senyum yang terbit diwajahmu
Sayang.. apa kabarkah di sana?
Menunggu setiap pesan yang akan kau tanyakan
Menanti setiap sanjungan yang akan kau ungkapkan
Sembilan puluh hari kau menghilang bak ditelan bumi
15 Mei kau kembali “ Ala, aku rindu... sangat rindu”
Terkesima aku terpesona
Ternyata semua masih sama
Masih tetap kau, manusia istimewa
Yang selalu ingin ku dekap raganya.
Disela-sela tetesan rindu yang jatuh
Meraih hasrat dalam sanubariku
Dan alam mulai merestui
Setiap detik senyum yang terbit diwajahmu
Sayang.. apa kabarkah di sana?
Menunggu setiap pesan yang akan kau tanyakan
Menanti setiap sanjungan yang akan kau ungkapkan
Sembilan puluh hari kau menghilang bak ditelan bumi
15 Mei kau kembali “ Ala, aku rindu... sangat rindu”
Terkesima aku terpesona
Ternyata semua masih sama
Masih tetap kau, manusia istimewa
Yang selalu ingin ku dekap raganya.
#Surat Terbuka Untukmu Tuan Raja
Jiwa sederhana yang tumbuh di selatan ibu kota
Semua tentangmu masih sama
Makhluk rumus matematika
Yang berhasil membuat ku merayu Tuhan
Dengan tak tahu malunya
Memang rupamu masih kasat mata
Bak Sang Pangeran yang tak ingin terlihat rakyat jelata
Tuan,
Aku hanyalah rakyat kerdil yang haus kasih sayang
Beribu-ribu pinta kulangitkan hanya untukmu seorang
Sayang..
Satu kata yang tak mampu ku layangkan, dan lagi
Sepertinya aku jatuh suka
Semua tentangmu masih sama
Makhluk rumus matematika
Yang berhasil membuat ku merayu Tuhan
Dengan tak tahu malunya
Memang rupamu masih kasat mata
Bak Sang Pangeran yang tak ingin terlihat rakyat jelata
Tuan,
Aku hanyalah rakyat kerdil yang haus kasih sayang
Beribu-ribu pinta kulangitkan hanya untukmu seorang
Sayang..
Satu kata yang tak mampu ku layangkan, dan lagi
Sepertinya aku jatuh suka
Nama : NURUN NABILA NURAEDY
Sekolah : MA ZAHA 1 GENGGONG
Kelas : X

Komentar Pembaca
Memuat komentar...