SESI 5 FATWAH TARJIH : TENTANG PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF MUHAMMADIYAH.
KOTA PROBOLINGGO – Masjid Al-Qasem menjadi saksi hangatnya diskusi intelektual dalam kajian rutin "Nisaiyyah" yang digelar pada Rabu (15/04). Acara ini dihadiri oleh jajaran Dosen dan Staf Tenaga Kependidikan Perempuan di lingkungan Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, dalam setiap Kajian yang dilaksanakan Narasumber silir berganti. Pada hari ini (15/04) Yulina sebagai Narasumber, Fitri sebagai Pemerhati Perempuan dibidang sosial, dan didampingi oleh Bunda Romiyati selaku penanggung jawab Acara.
Dalam pemaparannya, Yulina menekankan bahwa Islam memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk mengaktualisasikan diri. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin di berbagai bidang profesi.
"Perempuan juga bisa menjadi pimpinan dalam semua bidang. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Naml ayat 23 yang mengisahkan kepemimpinan Ratu Balqis yang bijaksana," ujar Yulina di hadapan para peserta.
Beliau juga berpesan bahwa ibadah seorang perempuan tidak seharusnya terisolasi dalam ruang domestik atau pribadi saja. Sebaliknya, peran di ruang publik seperti aktif dalam organisasi, menjadi dosen, hingga berkarier di instansi pemerintah merupakan bentuk pengabdian yang bernilai ibadah.
"Agama Islam itu tidak menyulitkan, namun meringankan," tambahnya, menekankan moderasi dalam beragama.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling dinamis, terutama saat muncul pertanyaan mengenai aturan aurat, penggunaan cadar, hingga penutupan telapak tangan dalam perspektif Muhammadiyah.
ditempat yang sama Fitri Menanggapi hal tersebut dari sisi Ilmu Tarjih Sosial, merujuk pada keputusan Majelis Tarjih. Ia menjelaskan bahwa fokus utama dalam berpakaian adalah menjalankan nilai-nilai yang tersirat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah An-Nur ayat 31 dan Surah Al-Ahzab.
"Di Majelis Tarjih, pemaknaannya lebih kepada aspek teknis yang substantif: menutup dada, tidak menampakkan perhiasan secara berlebihan, dan senantiasa menundukkan pandangan," jelasnya.
Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi bahwa fokusnya bukan pada kewajiban penggunaan cadar, melainkan bagaimana seorang muslimah mampu mengimplementasikan nilai-nilai kesopanan dan kehormatan dalam kehidupan sehari-hari sesuai tuntunan Al-Qur'an.
Kegiatan Rutin yang selalu dilaksanakan tiap hari Rabu ini merupakan kegiatan penting untuk menumbuhkan rasa semangat perempuan terhitung sejak tahun 2023 dilaksanakan hingga saat ini, karena setiap Kajian yang dilaksanakan selalu Mengupas kehidupan sosok perempuan.(*)
www.prestasindo.my.id | Editor : Hargo


Komentar Pembaca
Memuat komentar...