-->
KABAR PROBOLINGGO

SKANDAL ‘CURANREK’ MERAJALELA: Lebih Baik Hilang Rokok Sebungkus Daripada Korek Sebatang? Ini Fakta Mengejutkannya!

Photo dibuat dengan Ai (geminiAi)
KOTA PROBOLINGGO – Dunia pergaulan tanah air tengah diguncang fenomena sosial yang unik namun meresahkan. Bukan soal pencurian kendaraan bermotor, melainkan wabah "Curanrek" alias Pencurian Korek Api yang kian hari kian memicu tensi tinggi di berbagai tongkrongan, mulai dari warung kopi pinggiran hingga kafe kelas atas.

Hasil penelusuran tim di lapangan menemukan fakta mencengangkan, mayoritas perokok aktif mengaku jauh lebih emosional saat kehilangan sebuah korek api gas seharga Rp2.000, dibandingkan harus kehilangan beberapa batang rokok yang secara nilai ekonomi jauh lebih mahal.

Sosiolog amatir dan pengamat "tongkronganology", Bang Cemong nama sapaan, menyebutkan bahwa fenomena ini telah bergeser dari sekadar kelalaian menjadi sebuah tragedi sistemik.

"Ini bukan soal nominal rupiah. Ini soal akses. Memegang rokok tanpa korek itu seperti memegang mobil mewah tanpa kunci. Frustrasinya bisa naik sepuluh kali lipat," ujarnya saat ditemui di sebuah kedai kopi Nostalgia, Probolinggo Kamis (09/04).

Berdasarkan survei kecil-kecilan di tempat nongkrong, 8 dari 10 perokok lebih rela "disumpit" (diminta) rokoknya satu bungkus oleh teman, daripada harus mendapati korek api miliknya raib secara misterius setelah berpindah tangan untuk "dipinjam sebentar".

Istilah "Refleks Kantong" kini menjadi sorotan. Ini adalah kondisi di mana seseorang secara tidak sadar—atau pura-pura tidak sadar—memasukkan korek api milik orang lain ke dalam saku celananya setelah menyalakan rokok.

Psikologi massa menilai hal ini sebagai Mitos Solidaritas yang salah kaprah. Banyak yang berdalih bahwa korek api adalah "milik umat", namun ironisnya, sang pemilik asli seringkali menjadi pihak yang paling menderita saat ingin melakukan ritual membakar tembakau di saat genting.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada undang-undang yang mengatur secara spesifik mengenai pidana Curanrek. Namun, komunitas tongkrongan mulai menerapkan sanksi sosial bagi para pelaku, mulai dari kewajiban membelikan kopi hingga label "Tangan Magnet" yang sulit dihapus.

Pesan bagi masyarakat: Simpan rokokmu di tas, tapi ikat korekmu di pinggang! Karena di era sekarang, kejujuran seseorang tidak lagi diukur dari kata-katanya, melainkan dari apakah dia mengembalikan korek yang dia pinjam atau tidak (*).

www.prestasindo.my.id | Editor : Hargo

Komentar Pembaca

Memuat komentar...

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال